Si Buaya yang punya pede amat sangat ini, suatu hari lagi nongkrong, ngintai seekor anak Kuda Nil buat makan siang. Bodohnya, bukannya ngintai dari tempat aman, si Buaya dengan pedenya malah nangkring di atas tubuh Kuda Nil.

Awalnya si Kuda Nil diam aja. Tapi setelah sadar apa yang dilakukan si Buaya, dia pun marah. Digigitnya tubuh di buaya.

Buaya kaget dan berusaha melepaskan diri. Apa daya gigi dan moncong Kuda Nil lebih kuat dari apa yang dia bayangkan.

Buaya terus meronta dan melawan, tapi dia kalah tenaga dan kalah kuat.

Buaya pun tinggal nama.
Sebuah pelajaran bagi si Buaya … Kuda Nil adalah binatang yang protektif terhadap anggota keluarganya. Meskipun badannya kuat, kulit liat dan gigi tajam, buaya bukanlah lawan kuda nil, yang membuktikan bahwa gigitan mereka pun tak kalah maut dengan gigitan buaya.
“Salah satu alasan pertarungan ini adalah kalau kuda nil ini punya anak dan mereka merasa anaknya terancam, inilah yang terjadi. Si buaya yang kepedean itu terlalu dekat dengan seekor kuda nil betina yang punya anak dan semua anggota kelompok langsung mengepung buaya itu. Ini pesan kuat buat buaya itu agar tidak mendekat,” ujar Vaclav Silha, yang mengabadikan moment itu. Dia mengaku tak habis pikir mengapa si buaya itu malah memilih naik ke punggung kuda nil.
“Itu adalah pilihan terburuk reptil itu dan merupakan pilihan terakhir dalam hidupnya. Buaya itu terus menerus diterkam kuda nil.”
Kuda Nil bisa memberikan tekanan seberat beberapa ton sekali gigit ke lawannya. “Bahkan buaya paling kuat pun tak akan bisa tahan hidup kalau digigit terus-terusan seperti itu. Buaya itu sudah terkepung, tak bisa lari. Saya melihatnya mayatnya setelah beberapa saat tenggelam ke dasar sungai. Saya tidak pernah melihatnya lagi.”