Dulu, waktu masih SD, di kelas, seringlah beredar buku biodata. Di dalam buku itu, ada titik-titik atau garis puanjaaaangggg yang harus diisi berupa nama lengkap, tempat tanggal lahir, zodiak, alamat, nomor telepon, hobi, sekolah, kelas, cita-cita, kata mutiara/motto/semboyan hidup dan juga tokoh idola.
Waktu ai kelas enam SD, ni buku rajin banget berseliweran di meja ai. Jumlahnya nggak cuma satu dua, tapi bisa sampe lima atau tujuh sekali tulis. Maklum, waktu itu, teman2 ai berdalih, buat kenang2an mau lulusan. Okelah. Karena biar keren, ai pun ikut nulis2 buku itu. Ai nggak punya buku kayak gitu, karena ai pikir, what for, entar SMP juga ketemu lagi. *walhasil, pas SMP, hampir 80% temen2 ai, ya temen2 SD itu, jadi nggak ada perpisahan.*
Kalo kolom nama, tempat tanggal lahir, zodiak, alamat, nomor telepon, sekolah, kelas atau hobi, ai sama sekali nggak ada masalah saat mengisinya. Tapi kalo udah giliran cita-cita, kata mutiara atau tokoh idola, ai pasti membutuhkan waktu 3×24 jam buat mikir. Bingung ai.
Biasanya, sebelum ngisi, ai liat-liat dulu ke halaman sebelumnya. Baca-baca punya orang lain, ngintip, bukannya berniat nyontek. *gak mungkin dong ai nyontek nama ama alamat orang lain.* Nah, pas liat-liat itulah, ai biasanya takjub ngeliat cita-cita, kata mutiara dan tokoh idola temen-temen ai. Hebat-hebat euy, dari diplomat, guru, karyawan swasta, akuntan, menteri, anggota dewan, bahkan ampe presiden juga ada. Yang paling sederhana dan susah diterjemahkan adalah menjadi orang yang berguna bagi nusa dan bangsa. *halah, klise banget.* Kata-kata mutiaranya pun bagus-bagus. Dari yang berakit-rakit ke hulu berenang ke tepian sampe menjadi muslim yang baik atau mati sebagai syahid, pun ada. Tokoh idolanya *gw besar di masa berjayanya orde baru* dari Ir Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Cut Nyak Dien, Ibu Kita Kartini dan lain sebagainya.
Ai cuma garuk-garuk kepala. Semua cita-cita, kata mutiara sampe tokoh idola yang ada di otak ai, gak ada yang nulis di buku itu. Ai jadi ragu2 nulisnya, nggak pede, entar dikiranya sok nginggris, sok ngamerika, sok gosoklah.
Sejak kecil, ai bercita-cita ingin jadi penulis. Whatever penulis, pokoknya nulis. *alhamdulillah, part of it sudah terwujud.* Masa itu, orang pasti memicingkan mata. “Hah, penulis? Pekerjaan apa itu?” itu yang terlintas di otak mereka saat itu, mungkin. Maka, ai pun nggak pede nulis cita-cita ai di buku itu.
Karena sering bingung nulis cita-cita ai, kadang ai jadi nyontek temen. Kalo ai dapet halaman yang lebih dari 5, maka ai nyontek orang yang nulis di halaman 1 atau 3, dia tulis diplomat, ai tulis diplomat, dia nulis guru, ai tulis guru bahasa inggris, dia tulis menteri, ai tulis menteri *
*, begitu seterusnya. Susahnya kalo ai dapet halaman 2 atau tiga atau yang kurang dari lima. Ini harus ai tulis sendiri, aneh kan kalo ai nyontek dari temen di halaman 1? Jaraknya deket.
Nah, kalo udah gini, ai asal comot, secomot2nya, menterilah, presidenlah, ketua DPRlah, diplomatlah, dan lain sebagainya, asal keliatan hebat. Jadi dalam lima buku biografi, cita-cita ai tidak pernah sama. Suatu kali, ai pernah nulis jadi peragawati *model*. Hebohlah itu sekelas. Masak orang kayak ai mau jadi peragawati? Hihihihih …
Terus, semboyan hidup ai adalah whatever will be, will be *kala itu*. Sebuah rentetan kalimat yang mungkin buat anak SD terlalu pasrah, gak ada semangat dan pemalas. Ai tentu nggak mau dipandang begitu. *gengsi gw waktu SD begitu besar, kalo sekarang, urat malu gw mah udah putus kali.* Ai tentu dong mau juga dianggap hebat. Jadi, ai sering kali nyomot semboyan hidup teman sebangku ai, seseorang perlu gagal untuk maju dan sukses. Entah darimana si Joko *nama temen sebangku gw* itu dapat wangsit buat nulis kata-kata ini. Menurut gw, dia nggak cocok pake ni semboyan. Orangnya sukanya ketawa melulu. *sekarang, kata temen gw, anak ini jadi PNS dan udah punya anak istri di kampung.*
Lalu masalah tokoh idola. Tokoh idola ai adalah *dulu* penulis biografi tokoh-tokoh dunia maceman Hellen Keller, Albert Einstein, Isaac Newton, Thomas Alva Edison, dll. Bukan tokohnya, tapi penulisnya. Ai kagum sekali dengan cara mereka menceritakan orang-orang itu dengan bahasa yang sangat sederhana, tapi ngena. Nama mereka sih jarang yang terkenal. Kalo mau nulis itu, kok ya gimana, entar ditanyain lagi ini siapa, dijelasin, orang-orang ini juga gak bakalan ngerti. *dulu, cuma gw yang hobi baca biografi tokoh2 penemu asal luar negeri ini.* Akhirnya nggak jadi. Ai liat si Joko nulis BJ Habibie. Jadi … *nggak, gw nggak nyontek joko kok.*
Pernah ai tulis Agatha Christie. Yang ada, ai ditanyain macem2 ama temen-temen ai. Siapa dia, kek apa orangnya dan kenapa jadi idola. Ya, ai bilang aja, dia novelis, penulis misteri, cerita detektif dll, tetep aja ni anak2 nggak ada yang ngeh *lha wong gw baca tu novel juga dari emak gw yang ngefans berat ama budhe agatha*. Ya, udah. Akhirnya ai pun ngikut aliran pop aja, nyari yang gampang dan mereka tau.
Wakakaka, aneh juga deh dulu itu. Pas SMP, ai lebih sering nulis diplomat sebagai cita-cita, semboyan hidup sebagaimana yang ai comot dari Joko dan idola, bisa ai ganti-ganti. Terakhir, ai tulis BJ Habibie. Pas SMA, ai tetep tulis jadi diplomat, waktu itu, ai pingin masuk Deplu.
Hahaha. Rasanya, cita-cita jadi penulis cuma bisa ai tuangkan di pikiran saja, bukan di tulisan resmi. Karena, bagaimanapun, masih banyak yang micingin mata pada kata-kata ini. Padahal, sebenernya, itu adalah kemauan ai sendiri sejak kecil.