Harta, tahta dan wanita berada di balik kejatuhan Zine El Abidine Ben Ali dari kursi kepresidenan Tunisia yang telah didudukinya selama 23 tahun.
Rakyat Tunisia tak hanya jengah dengan masalah pengangguran dan kenaikan harga di negara itu. Mereka juga merasa kesal ketika masalah hidup membebat, sang penguasa negara justru tetap hidup enak, mewah dan selalu berkecukupan.
Rakyat pun berontak. Mereka ingin agar sang penguasa yang tak mempedulikan nasib rakyat turun. Kemarahan pun makin membara ketika melihat perilaku sang ibu negara, Leila Trabelsi, yang tamak terhadap harta. Bagi mereka, keluarga presiden tak lain adalah sekumpulan koruptor kelas kakap.
Bukan sebuah rahasia umum lagi di Tunisia jika Leila adalah Imelda Marcos—mantan ibu negara Filipina, istri mendiang diktator Ferdinand Marcos—di Tunisia. Kecintaannya terhadap harta dan perhiasan seolah menjadi keutamaan dalam hidup istri kedua Ben Ali ini.
Saking cintanya pada harta kekayaan yang dimilikinya, Leila tak mau pergi dengan tangan kosong ketika suaminya, Ben Ali, memutuskan pergi meninggalkan Tunisia setelah lengser sebagai presiden. Mantan penata rambut itu lantas menarik 1,5 ton emas yang mereka simpan di bank. Selain emas senilai USD64 juta (Rp588 miliar) itu mereka masih punya harta sekitar Rp50,8 triliun yang diperkirakan disimpan di Prancis, bekas penjajah Tunisia.
Ketika Ben Ali, 75, lari ke Arab Saudi, istrinya, yang terpaut 20 tahun, diperkirakan “mengungsi” ke Dubai—sebuah kawasan yang disebut banyak orang cocok dengan hobi Leila berbelanja.
Sebelum ke Arab Saudi, Ben Ali dan Leila, 53, berencana lari ke Prancis. Tapi, Presiden Nicolas Sarkozy menolak keduanya dan mereka pun akhirnya pergi ke Arab Saudi.
Keduanya kini berada di sebuah istana bertembok tinggi di Jeddah dan dijaga ketat oleh tentra. Pemerintah Arab Saudi tidak menyatakan berapa lama keduanya akan berada di kerajaan itu.
Sementara, dua putri Ben Ali, Nesrine, 24, dan adiknya Cyrine, dikabarkan lari ke Disneyland Hotel di Paris. Mereka menginap di suite VIP hotel dengan tarif Rp4,3 juta per malam. Kedua kakak adik ini dikawal ketat begitu ayahnya diberi perlindungan di Arab Saudi. Namun, pemerintah Prancis menyatkan, keluarga Ben Ali yang beada di negara itu akan diusir.
Kedua saudara itu awalnya akan berlindung ke kedutaan Tunisia di Paris. Namun, mereka dipaksa pergi setelah warga ekspatriat Tunisia mulai menggelar demonstrasi di luar gedung kedutaan.
Keberadaan dua saudara di hotel itu memang mencolok. Mereka membawa serombongan pembantu dan pengawal. “Rombongannya banyak sekali. Orang tentu langsung mengenali mereka. Wanitanya terlihat seperti putri dengan mengenakan perhiasan mewah. Limosin juga datang dan pergi,” ungkap sumber hotel itu.
Sumber itu juga menyebutkan, ada empat pengawal Tunisia yang berjaga di lobi hotel. Kemungkinan mereka membaw senjata api dan meneliti siapa yang keluar masuk tempat itu.
Gaya hidup mewah Nesrine, yang sedang hamil dan didampingi suaminya Sakhr, 30, awalnya diungkap WikiLeaks. Dia lantas disamakan dengan Ratu Marie Antoinette, yang dibenci rakyat Prancis dan dipancung ketika Revolusi Prancis meletus. Nesrine dikabarkan selalu memakai pesawat pribadi untuk mendapatkan makanan mewah dan suaminya memelihara seekor harimau bernama Pasha yang diberi makan daging sapi pilihan.
Dalam kabel diplomatik yang dibocorkan WikiLeaks dari Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) di Tunis, disebutkan mengenai gaya hidup mewah keluarga Ben Ali dan korupsi yang merajalela.
“Keluarga besar Presiden Ben Ali sering disebut sebagai keluarga koruptor Tunisia,” ungkap kedutaan besar AS di Tunis dalam kabel pada Juni 2008 yang dibocorkan WikiLeaks dan dibaca banyak orang di Tunisia. “Sering disebut sebagai keluarga yang bergaya mafia, sebutan wajib ‘Keluarga’ terhadap Ben Ali cukup mengindikasikan seperti apa keluarga itu. Istri Ben Ali, Leila, dan keluarga besarnya—Trabelsi—memprovokasi kemarahan rakyat.”
Beberapa pengamat yakin kabel-kabel WikiLeaks itu membantu memicu revolusi yang akhirnya menjatuhkan Ben Ali dari kekuasaannya. Tapi tentu saja, berapa nilai kekayaan klan presiden itu tidak diketahui jumlah pastinya dan disembunyikan di banyak tempat.
Keluarga besar Ben Ali menguasai banyak sektor di Tunisia. Dari pusat perbelanjaan, perusahaan ekspor—impor, pengembang properti, bank, media, telekomunikasi, penyedia layanan (provider) internet, bea cukai, ‘Keluarga’ itu ada di mana saja di Tunisia.
“Anggota keluarga itu berada dalam situasi predator, dengan menggunakan kekuasaan mereka demi keuntungan pribadi,” ujar Beatrice Hibou, penulis kajian The power of obedience: Political economy and repression in Tunisia.
Sementara Ben Ali memiliki jaringan relasi yang besar, kemarahan rakyat Tunisia terkonsentrasi pada kelompok di sekeliling Leila, 10 saudara kandungnya dan puluhan keponakan istri kedua Ben Ali tersebut.
Leila menikahi Ben Ali pada 1992. Menurut Nicolas Beau, penulis asal Prancis, wanita itu menghabiskan era 1990an dengan menempatkan anggota keluarganya yang berasal dari “kelas bawah dan terbatas secara intelektual” itu ke posisi kunci di kancah politik dan ekonomi.
Menurut Hibou, periset di Pusat National Scientific Research Centre (CNRS) di Paris, Keluarga itu menggunakan berbagai metode untuk membangun markas di kehidupan perekominian Tunisia.
“Saat privatisasi dilakukan, mereka akan membeli dengan harga simbolis dan setelah itu menjualnya pada kaum industrialis dan pengusaha. Kalau bisnis berjalan baik, mereka akan meminta bagian dalam permodalan,” ujarnya. “Mereka meminta saham atau komisi dalam investasi asing dan bertindak sebagai penghubung dalam pemberian kontrak publik. Jaringan Trabelsi mengontrol bea cukai dan penyelundupan.”
Menurut Beau, untuk memperkuat jaringan, putra dari klan itu menikahi putri pengusaha kaya Hedi Jilani. “Leila juga memanfaatkan elemen tertentu kepolisian dan untuk mengancam dan menghina rivalnya,” ujar Beau.
Kabel diplomatik, yang mengutip pernyataan eksekutif dari Bank Credit Agriole Prancis itu juga menyebutkan kalau menantu Ben Ali, Marouane Mabrouk, telah mengambil 17% saham di bank itu sebelum diprivatisasi. Kemudian, masih menurut kabel itu, kakak Leila, Belhassen Trabelsi dikabakarn terlibat dalam skema korupsi besar-besar dari perubahan dewan Banque de Tunisie hingga pengambilalihan properti dan suap.
“Holding Belhassen Trabelsi sangat besar dan termasuk sebuah maskapai, beberapa hotel, satu dari dua stasiun radio swasta Tunisia, pabrik perakitan mobil, distribusi Ford, sebuah perusahaan pengembang real estate,” tulis kabel itu. “Tapi, Belhassen hanya satu dari 10 saudara Leila. Masing-masing dari mereka punya anak.”
Cerita paling mengagetkan dalam kabel itu—termasuk bab-bab berjudul All in the Family, Mob Rule dan The Sky’s The Limit—adalah bagaimana dua klan itu mencuri sebuah yacht milik seorang bankir terkenal Prancis.
“Pada 2006, Imed dan Moaz Trabelsi, keponakan Ben Ali, dilapporkan mencuri yacht milik pengusaha Prancis, Bruno Roger, Ketua Lazard Paris,” papar kabel itu.
Menurut Beau, Imed adalah keponakan kesayangan Ben Ali, meski bertingkah layaknya berandalan dan suka menelepon polisi jika diancam. “Ini adalah semacam keserakahan, ketikdakompetensian, dan gangguan yang menyakiti hati kaum kelas menengah, industrialis dan pedagang Tunisia,” paparnya seraya menarik hubungan antara korupsi dan rata-rata tingkat pengangguran di kalangan pemuda Tunisia yang mencapai 30%.
Sumber: AFP/Daily Mail
