Arriverdeci Andrea Pirlo

Pertama mendengar namanya adalah sekitar tahun 2001. Waktu itu, dia baru saja dibeli dari Brescia. Ketika melihat dia beraksi dengan seragam merah hitam, aku terpesona. Dia punya cara dan gaya lari yang khas. Entahlah, aku tak bisa menggambarkannya dengan kata-kata. Belum lagi, cara dia mengeksekusi bola, hmm, jadi seneng deh.

Saat itu, aku masih getol nonton bola. Apalagi Liga Serie A, yang disiarkan di RCTI. Boleh berantem ama orang rumah deh tiap malem Minggu demi nonton pertandingan, apalagin kalo sudah Paolo Maldini cs yang berlaga. Tak bolehlah dilewatkan.

Dan aku terpesona pada sosok bernomor punggung 21 itu. Bukan hanya dari caranya berlari atau mengontrol bola. Tapi juga bagaimana dia bisa memainkan peran banyak di tim itu. Dia bisa jadi striker di depan, bisa jadi gelandang dan juga membantu pertahanan. He’s man of everything. Dalam pikiranku, bagaimana dia bisa melakukannya? Bukankah dia sebenarnya seorang pemain tengah? Tak perlulah dia susah2 bela pertahanan, mendingan dia terus maju ke depan bantu lini penyerangan … Tapi …

Pada akhirnya, pemain bernama Andrea Pirlo itu membuatku sadar. Manusia tidak harus berpatok pada peranan utama yang diberikan kepadanya. Ada tanggung jawab pada tim, membuang egoisme dalam diri. Itulah yang kutahu.

Pria itu tiba2 menginspirasiku. Dia menyadarkan aku bahwa hidup tak sekadar menjalankan apa kewajiban, masih ada tanggung jawab sebagai anggota tim untuk bergerak ketika ada yang membutuhkan pertolongan. Sejak saat itulah, aku menambahkan Pirlo pada namaku.

Kecintaanku pada gaya permainannya makin besar pada Piala Dunia 2002. Sayang, tim Italia gagal masuk semi final setelah pada perempat final “dicurangi” tim tuan rumah Korea Selatan.

Hingga pada sebuah malam, tanggal 28 Mei 2003.

Stadion Old Trafford sudah dipenuhi para fans AC Milan dan Juventus. Sementara, di kepalaku, penuh dengan pertanyaan: apa yang akan terjadi pada hari Kamis, tanggal 29 Mei 2003. Nasibku selama 4 taun kuliah akan ditentukan hari itu. Yah, itulah hari dimana aku harus berhadapan dengan empat dosen, sendirian di dalam ruangan.

Hari itu, Rabu, 28 Mei 2003, aku tak bisa berhenti berpikir. Aku tidur jam 9 malam. Tapi, aku ingat, ada pertandingan final Liga Champions antara Juventus dan AC Milan. Rasanya mau nonton, tapi besoknya harus bangun pagi karena harus ujian skripsi.

Selepas jam 12 malam, aku hidupin tipi. Aku sama sekali tak bisa tidur. Bukan karena mikirin pertandingannya, tapi mikirin ujiannya. Aku wondering, pertanyaan apa yang bakal dilontarkan dan bisakah aku menjawabnya. Tanpa suara, aku nonton pertandingan itu.

Babak pertama, Shevchenko berhasil melesakkan bola ke gawang Buffon. Tapi, wasit Markus Merk menyatakan gol itu enggak sah, karena offside. Oke. Bertandingan terus berjalan seru. Kedua tim saling berusaha menjebol gawang lawan. Pirlo bahkan sempat mengancam gawang Buffon, tapi gagal. Sampai babak kedua, pertandingan masih 0-0. Makin kacaulah pikiranku.

Sekarang, bukan lagi mengenai ujian, tapi mau seperti apa pertandingan itu. Dalam hati aku berdoa, semoga Milan yang menang. Karena jika tim itu menang, rasanya aku punya modal semangat dan rasa percaya diri ngadepin empat dosen itu pada jam 9 pagi.

Akhirnya digelarlah adu penalti. Begitu Shevchenko berhasil menjebol gawang Buffon sebagai penendang terakhir Milan, aku bersorak. Emakku yang bangun bertanya,”Ngapain kamu sorak2 pagi2, mau ujian kok malah nonton bola, sana tidur!”

Kayaknya, aku udah nggak dengerin omongan emakku lagi.

Hatiku bahagia, Milan menang.

Dan, ketika habis mandi, siap2 ke kampus, ada rasa enteng dalam hatiku. Ujian itu pasti bisa kulalui. Ya, pasti bisa, Milan menang dan itu sudah cukup membuatku terinspirasi.

Entah bagaimana, ujian itu berjalan lancar dan sedikit aneh. Bukannya kasih pertanyaan, salah satu dosen itu malah nyuruh aku ngerap. Hahaha, ya udah, ngerap aja. En, pas keluar, I dunno. Buanyaaaakkkk temen2 seangkatan yang nungguin. Tambah bahagialah aku. Thanks ya, guys …

Anyway, malamnya, aku langsung ngebut merevisi naskah skripsi itu, terutama bagian kasih ucapan selamat. Pada bagian akhir aku tambahin rasa terima kasihku kepada tim final Liga Champions AC Milan 2003: Dida, Maldini, Kaladze, Nesta, Roque Junior, Ambrosini, Gattuso, Seedorf, Serginho, Pirlo, Rui Costa, Inzaghi, Shevchenko, serta Carlo Ancelotti.

Pirlo tetap menginspirasiku sampai kini. Walaupun AC Milan bermain buruk, tapi pada akhir musim ini, Pirlo masih sanggup memberikan gelar scudetto. Dan, dia harus pergi.

Selamat jalan, Pirlo, terima kasih sudah memberiku inspirasi selama 10 tahun terakhir, good luck, God bless you and … happy 32th anniversary ..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s