Do We Really Need a Motivator?

Ada satu pertanyaan besar yang belakangan menggelantung di benak ai: do we really need a motivator?

Mungkin banyak yang bakal menjawab iya. But, haruskah dia seorang yang berpenampilan rapi, rambut klimis, punya skill komunikasi yang sangat sangat baik dan tentu saja harus dibayar?

Buat ai, motivator nggak melulu harus seperti itu. No.

Motivator bisa jadi siapa saja. Kadang, dia seorang perempuan yang tiap pagi selalu membuang sampah, mengepel lantai, mencucikan baju dan juga bersih2 rumah. Kadang, dia seorang pria yang duduk di belakang kemudi mobil dan terus berkendara keliling kota mencari penumpang seharian. Kadang, dia hanyalah orang asing yang kita temui di jalan tanpa sengaja dan berbagi cerita tentang kehidupannya. Dan, seringnya, mungkin juga nggak banyak yang sadar, dia adalah seorang pria yang tiap sore, dengan sarungnya, duduk santai di teras atau ruang tamu, merokok sambil menyeruput kopi atau teh dan bercerita tentang banyak hal. Atau seorang perempuan yang selalu bangun pagi, memasakkan sarapan, makan siang atau makan malam, mencuci baju, bersih-bersih rumah tanpa bayaran.

Mereka jarang yang berbicara dengan nada berapi2 seperti orator dadakan di acara demonstrasi nuntut kenaikan gaji. Kadang, mereka bicara dengan suara tersendat, kadang berhenti untuk mengingat dengan mata menerawang, dan kadang lagi, air mata mereka pun menetes saat bercerita.

Cerita mereka pun jarang sekali yang muluk-muluk. Kadang sangat sederhana, tapi menyentuh. Dan, mereka tak pernah memberi janji, tak pernah mereka bilang,”Percayalah.” Mereka hanya simply berbagi cerita, tanpa dibayar secara khusus untuk berbagi cerita itu.

Gaya mereka bercerita pun tak mendayu-dayu, tak pula sendu seperti sebilah sembilu. Mereka bercerita dengan apa adanya. Kadang ada bagian2 yang tercekat karena terlalu berat untuk diungkap. Ya, itulah mereka.

Kadang, kita nggak sadar, cerita mereka bisa jadi inspirasi kita dalam melangkahi kehidupan. Bagi kita, itu cerita lalu saja, sekarang dengar besok lupa. But, wait. Ada beberapa yang bisa kita dengarkan dan camkan dalam hati.

Survival.

Orang-orang yang punya cerita yang begitu menyentuh, biasanya mereka adalah survival, orang-orang yang mampu bertahan dan bangkit dari keterpurukan dan bertekad tak akan jatuh lagi atau just simply pasrah dengan keadaan meski berusaha menjadikannya sedikit lebih baik.

Dan satu lagi, mereka nggak menggurui dan men-judge seenak udelnya. Mereka berbicara lewat pengalaman hidup dan berharap orang lain nggak perlu ikut terpuruk.

Ai pernah cerita di blog ini tentang motivator yang mencoba menggaet ai en seorang temen ai ke komunitas mereka. But, you know, motivator yang dibayar, they’re always … judging. Dan, terus terang, jawaban mereka untuk satu atau dua masalah yang kadang berbeda, selalu terkesan sama dan hanya dibolak balik saja. Nggak percaya? Coba aja liat dua atau tiga video rekaman seorang motivator, you’ll see, ada persamaan dalam jawaban mereka.

Motivator cenderung menggampangkan semua masalah. Rasanya, semuanya itu selalu punya jawaban, regardless state of mind si empunya masalah. But yeah, orang yang sedang jatuh dan terpuruk itu memang butuh motivator. Dan, kalo dia pas menemukan yang ‘benar’, maka benarlah dia. Tapi, sebaliknya, ya sudah, hancur ajalah.

Jadi motivator itu nggak hanya harus bisa ngeyakinin orang dengan sikap kita yang sok dekat ama sok punya pengalaman paling buruk sedunia dan juga cerita tentang bagaimana kita bangkit lagi terus persuade orang buat ngikutin cara kita. Motivator kek begini ini cenderung menggurui orang yang sedang dia persuade. Dan, kadang, yang dipersuade adalah orang yang sedang kosong pikirannya, semrawut, kacau dan gampang banget kena rayuan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s