One Night at the Taxi

“mungkin saya ditakdirkan untuk jadi single parent, mbak.”

ucapan itu telontar dari seorang wanita, sebut saja mbak nani, yang berprofesi jadi sopir taksi. en, itu adalah kali pertama ai naik taksi yang pengemudinya seorang wanita.

mbak nani ini janda beranak tiga. yang besar sudah kelas 2 smp, yang kecil baru berusia 1,5 tahun. dia sudah dua kali menikah. dari suami pertamanya, dia punya dua anak dan dari suami terakhirnya, ya si bungsu itu. “saya baru pisah sama yang kedua sekitar setahun lalu,” ujarnya.

dia tidak menjelaskan mengapa memilih berpisah dengan suami keduanya itu, tapi dia bilang, terpaksa memilih bercerai dari suami pertamanya karena laki-laki itu dinilainya sangat anak mami. “dikit-dikit pulang ke rumah ibunya, dikit-dikit ngadu ke ibunya, saya lama-lama gak tahan juga, mbak, mendingan pisah,” papar dia.

karena perilaku si suami yang suka pulang ke rumah orang tuanya itu, hubungannya dengan anak-anak pun jauh. mbak nani bilang, anak-anaknya dari suami pertama itu lebih suka tinggal dengan ibunya dan sudah terbiasa hidup tanpa ayah mereka. “mereka lebih suka sama saya ketimbang sama bapaknya. mereka nggak mau tinggal sama dia. bahkan, diajak nginep aja susah,” ujar mbak nani.

mbak nani mengaku baru beberapa bulan saja jadi sopir taksi. sebelumnya, dia bekerja sebagai seorang marketing di sebuah perusahaan yang lumayan besar. “saya pikir, jadi sopir taksi begini uangnya lebih lancar,” kata dia.

wanita berambut pendek ini mengaku tak terlalu mempedulikan jika jumlah uang yang dia bawa pulang jauh lebih kecil ketimbang hasil yang dia peroleh waktu masih jadi staf marketing. “ya emang sih jauh lebih kecil. tapi seenggaknya tiap hari ada. kalo jadi marketing, pas saya nggak dapat klien, saya nggak dapet uang,” beber dia.

mbak nani tampaknya tak mau pusing soal uang. menurut dia, jadi sopir taksi lebih menyenangkan karena dia tak perlu diikat waktu untuk bekerja. “saya bisa saja pulang kapan pun. abis narik satu, pulang, tengok anak, terus kerja lagi deh,” urainya dengan nada ceria.

mbak nani memilih waktu bekerja dua hari kemudian satu hari libur. shift-nya lumayan panjang, dari jam 3 pagi sampai jam 12 malam. tapi, tentu saja, dia tak perlu repot-repot keluar tiap jam 3 pagi. menurut mbak nani, jam 3 pagi adalah waktu ketika perusahaan tempat dia bekerja mengeluarkan surat izin untuk membawa mobil keluar pool. jadi, bisa saja di ke pool, ambil surat sekitar jam 5 pagi, narik, kemudian pulang ke rumah untuk urus keperluan anaknya yang akan sekolah. “si kecil titipin tetangga,” ujar dia.

dia bercerita, ketika sedang narik, tiba-tiba anaknya menelepon karena kesulitan mengerjakan pe-er, soalnya sulit, begitu kata anaknya. mbak nani pun bergegas pulang dan membantu anaknya. “makanya, saya lebih suka kerja begini, lebih fleksibel dan saya bisa sekalian urus anak,” kata mbak nani, yang mengaku tidak pernah mendapatkan perlakuan tak pantas dari rekan sekerja atau pun dari penumpang yang dibawanya.

tapi, mbak nani mengakui, awalnya sulit bagi dia untuk menjalani profesinya sebagai sopir taksi karena ibunya melarang. sebelum memutuskan jadi sopir taksi, dia pernah berkeinginan melamar jadi sopir bus transjakarta. tapi, niat itu dia urungkan dan memilih jadi sopir taksi. “setelah kerja selama dua minggu, baru saya kasih tau ibu saya, beliau marah-marah,” ujarnya disertai tawa.

mbak nani mengaku menikmati pekerjaannya. apalagi anak-anaknya pun tak keberatan. “seperti yang saya bilang, saya bisa sewaktu-waktu pulang menengok mereka,” akunya.

kini mbak nani mengaku lebih nyaman menjalani hidup. meski ada kata tanya dalam hatinya mengapa dia harus dua kali gagal membina rumah tangga. “mungkin saya ditakdirkan untuk jadi single parent, mbak,” katanya. “mungkin laki-laki nggak mau sama saya karena saya terlalu mandiri.”

sebenarnya, masih banyak yang ingin ai tanyakan pada mbak nani, sayang perjalanan dari kantor ke kosan itu cepat sekali, dan kebetulan nggak kena macet. jadi cukup sampai di situ saja obrolan yang akhirnya jadi obrolan antar wanita. “ya, semoga segera bertemu jodoh, mbak,” ucapnya setelah memberikan kembalian uang argo kepada ai.

amin, mbak, dan semoga kebahagiaan selalu menyertai mbak nani juga.

obrolan dengan mbak nani itu membuat ai sadar, apa pun pekerjaan itu asalkan dilakoni dengan santai, tenang, nikmat dan syukur, kepingan rupiah yang diterima, entah banyak atau sedikit, selalu membuat bahagia.

oh, ya, dan, mbak, soal laki-laki yang “takut” pada wanita mandiri, yeah, mbak, you’re not alone, but really, if you do believe it, you’ll find him, a man who will always be there for you …

Advertisements

One response to “One Night at the Taxi

  1. hehehheheh “perempuan mandiri: momok laki-laki” koyone ngono ya mbak?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s