One Night at the Taxi

“mungkin saya ditakdirkan untuk jadi single parent, mbak.”

ucapan itu telontar dari seorang wanita, sebut saja mbak nani, yang berprofesi jadi sopir taksi. en, itu adalah kali pertama ai naik taksi yang pengemudinya seorang wanita.

mbak nani ini janda beranak tiga. yang besar sudah kelas 2 smp, yang kecil baru berusia 1,5 tahun. dia sudah dua kali menikah. dari suami pertamanya, dia punya dua anak dan dari suami terakhirnya, ya si bungsu itu. “saya baru pisah sama yang kedua sekitar setahun lalu,” ujarnya. Continue reading

Advertisements

Endang

namanya endang. setidaknya begitu dia menyebutkannya di akhir pertemuan singkat itu.

aku bertemu secara tak sengaja ketika menunggu boarding di shia hari minggu lalu. waktu itu, masih sekitar jam 7 malam, tapi gate check in untuk japan airlines ternyata sudah buka, padahal pesawat baru terbang jam 21.55. yah, daripada menunggu di luar, mendingan check in dulu, seenggaknya nggak perlu nyeret koper kemana-mana.

setelah check in, aku liat ada bangku kosong di dekat seorang perempuan mungil. aku duduk di situ dan perempuan berambut pendek itu pun menyapa. “berangkat kemana?” tanyanya.

“ke jepang,” jawabku.

“gajinya bagus nggak?” Continue reading

They Don’t Forget

“Vin, Alvin, mimpimu dulu banyak yang udah keraih ya sekarang…”

Sepenggal kalimat yang untuk kali kedua kudengar dalam kurun waktu tiga tahun belakangan dari dua orang berbeda yang dua2nya sama2 I missed so much …

Yang pertama adalah orang yang selama hampir 8 tahun takkudengar beritanya sampe lebaran tahun 2010 lalu.

Dan, yang di atas, meluncur dari seseorang yang sudah 14 tahun tak pernah kudengar kabar beritanya. Dia dulu teman sebangkuku ketika kelas 3 SMA. Continue reading

An Affair in Paris (Part I)

img_17451

sedang mengingat2 kejadian seminggu lalu. hari Minggu, jam segini, waktu setempat, aku sedang terbaring di atas kasur empuk Pullman Hotel di kawasan selatan Paris sambil nonton CSI di TF1, capek setelah seharian main di Eiffel en puter2 nyari makan, trus masih sedikit capek karena penerbangan yang memakan waktu sekitar hampir 14 jam in total, itu lari2 di Schipholnya gak diitung.

well, yeah, baru aja dapet kesempatan ke ibu kota negerinya Napoleon Bonaparte pada pekan lalu. bersyukur pada Tuhan karena masih diberi kesempatan untuk melihat-lihat kondisi di negara lain. bukan untuk membandingkannya sama Indonesia. nikmati sajalah suasananya karena pasti beda. *di sana, banyakan orang2 bule, di sini banyakan orang jawa, sunda, sumatera, batak, kalimantan, sulawesi, papua dan lain-lain, hahaha.*

oke, cerita nggak seru kalo nggak pake error. bukan begitu? halo, mickey … *eh, tiba2 keinget ama ni bocah, ahahaha …* Continue reading

Arriverdeci Andrea Pirlo

Pertama mendengar namanya adalah sekitar tahun 2001. Waktu itu, dia baru saja dibeli dari Brescia. Ketika melihat dia beraksi dengan seragam merah hitam, aku terpesona. Dia punya cara dan gaya lari yang khas. Entahlah, aku tak bisa menggambarkannya dengan kata-kata. Belum lagi, cara dia mengeksekusi bola, hmm, jadi seneng deh.

Saat itu, aku masih getol nonton bola. Apalagi Liga Serie A, yang disiarkan di RCTI. Boleh berantem ama orang rumah deh tiap malem Minggu demi nonton pertandingan, apalagin kalo sudah Paolo Maldini cs yang berlaga. Tak bolehlah dilewatkan.

Dan aku terpesona pada sosok bernomor punggung 21 itu. Bukan hanya dari caranya berlari atau mengontrol bola. Tapi juga bagaimana dia bisa memainkan peran banyak di tim itu. Dia bisa jadi striker di depan, bisa jadi gelandang dan juga membantu pertahanan. He’s man of everything. Dalam pikiranku, bagaimana dia bisa melakukannya? Bukankah dia sebenarnya seorang pemain tengah? Tak perlulah dia susah2 bela pertahanan, mendingan dia terus maju ke depan bantu lini penyerangan … Tapi … Continue reading

The Papah and Mamah

 
Dari sejak awal denger istilah kek ginian, ai sungguh tak mengerti. Ketika SMP, banyak banget temen ai yang pacaran udah panggil pasangannya pake istilah papah en mamah. Duluuuuu, ai anggep kek gituan tu norak. Bukan, bukan karena ai ngiri karena ai panggil pacar dengan sebutan mas atau eh atau woi atau namanya langsung, but, rasanya kok aneh aja buat ai ada yang panggil pacarnya pake sebutan gituan.

Parahnya, salah satu sohib ai adalah pelakunya. Dia manggil pacarnya dengan sebutan Pah dan pacarnya manggil dia dengan sebutan Mah. Sebutan itu berlaku, halah, dalam waktu yang cukup lama pada pacar terakhirnya, yang kebetulan sekarang jadi suaminya. Pada pacar pertamanya, dia dulu awalnya cuma panggil yang aja, tapi lama2, karena pacarannya lebih dari tiga tahun, mereka pun sudah manggil papah dan mamah.

Tapi, panggilan sayang pada pacar pertamanya itu berubah jadi panggilan lon** en buaya setelah mereka putus. Mereka putusnya nggak baik2. Ai udah lupa apa sebabnya, kata temen ai, mereka sampe berantem2 gitu deh, mirip2 kek sinetron lebay masa kini. *jadi, generasi gw dulu udah lebih maju ketimbang sinetron sekarang dong ya? bangga gitu?* Mungkin aja kalo waktu itu mereka udah nikah, terus cerai, itu perceraiannya bisa dijadiin cover tabloid 15 edisi. Huehehehe …
Continue reading

Food: Kerupuk

Sebagian besar orang Indonesia pastilah mengenal makanan yang satu ini, kerupuk. Dari bentuk yang paling orisinil – kayak benang ruwet berwarna putih ato kuning terbuat dari sari udang – sampe modifikasinya, kerupuk udang, rambak, kerupuk gendar/karak, atau yang berwarna warni, makanan ringan ini senantiasa menemani dengan setia sepiring nasi dan lauk pauk lainnya. Kayaknya sih kurang afdol aja kalo makan gak ada krupuk. Ibarat sayur, garamnya kurang nggigit gitu.

Nggak bayi, nggak kakek, nggak miskin, nggak kaya, rasanya makanan ini selalu lekat di hati orang Indonesia. Dari warung sampe restoran masakan Indonesia, kerupuk memang tak pernah hilang. Makanan ini seolah menambah cita rasa setiap makanan yang dihidangkan di atas meja. Kalau tidak ada, selalu ada pertanyaan, mana ni kerupuknya?

Anyway, baru-baru ini, ai menemukan bahwa nggak semua orang Indonesia bisa menikmati kerupuk. Mau jenis apa pun itu.

Continue reading