Shadow

would it be still love when i can’t get you out of my head?

maybe it’s love but maybe it’s only desire from despair.
it breaks my heart when i realize that not all the roses are red. there is blue, yellow, white and even black. and still, i catch your shadow in those red roses.

it wasn’t blind love you said. it was just me trying to realize that it is what it is even somehow what it is is not it is. and still, i catch your shadow.

we both know, love for us is hard to catch even it’s easy to be found. we are never meant to be. and still, i catch your shadow.

even it doesn’t hurt at all but it’s still there, hanging out inside of me. and i can’t get it out of me. i know i should. i just don’t know when. and still, i catch your shadow.

they said it will be gone when i find someone new. someone who will break this prison built inside of me with their hammer or any other tools. and, still i catch your shadow.

i won’t blame you. i won’t blame anything we’ve been through. even that you’re already gone now. and still, i catch your shadow.

i love you.

it’s not a poem or whatever it is. it’s just me, trying to reach you. you, the real you. not only a glimpse of your shadow.

Advertisements

One Night, with Tukang Nasi Goreng’s Story

bapak tukang nasi goreng itu kayaknya selalu punya cerita aneh tiap hari. bukan karena dia yang aneh, tapi karena pelanggannya yang suka ajaib. tadi si bapak itu barusan cerita, pernah ada seorang pelanggannya yang tiap malem selalu beli nasi goreng, suatu hari dia ngantre and ngacungin jari telunjuknya, pertanda, satu nasi goreng bungkus.

si bapak itupun membungkuskan satu nasi goreng untuk si mas2 yang disebutnya bekerja di sebuah toko tak jauh dari tempatnya mangkal. setelah membayar nasi goreng bungkusnya, si mas pun pulang. tapi, tak lama kemudian dia balik lagi ke tukang nasi goreng itu. Continue reading

Do We Really Need a Motivator?

Ada satu pertanyaan besar yang belakangan menggelantung di benak ai: do we really need a motivator?

Mungkin banyak yang bakal menjawab iya. But, haruskah dia seorang yang berpenampilan rapi, rambut klimis, punya skill komunikasi yang sangat sangat baik dan tentu saja harus dibayar?

Buat ai, motivator nggak melulu harus seperti itu. No. Continue reading

One Night at the Taxi

“mungkin saya ditakdirkan untuk jadi single parent, mbak.”

ucapan itu telontar dari seorang wanita, sebut saja mbak nani, yang berprofesi jadi sopir taksi. en, itu adalah kali pertama ai naik taksi yang pengemudinya seorang wanita.

mbak nani ini janda beranak tiga. yang besar sudah kelas 2 smp, yang kecil baru berusia 1,5 tahun. dia sudah dua kali menikah. dari suami pertamanya, dia punya dua anak dan dari suami terakhirnya, ya si bungsu itu. “saya baru pisah sama yang kedua sekitar setahun lalu,” ujarnya. Continue reading

Endang

namanya endang. setidaknya begitu dia menyebutkannya di akhir pertemuan singkat itu.

aku bertemu secara tak sengaja ketika menunggu boarding di shia hari minggu lalu. waktu itu, masih sekitar jam 7 malam, tapi gate check in untuk japan airlines ternyata sudah buka, padahal pesawat baru terbang jam 21.55. yah, daripada menunggu di luar, mendingan check in dulu, seenggaknya nggak perlu nyeret koper kemana-mana.

setelah check in, aku liat ada bangku kosong di dekat seorang perempuan mungil. aku duduk di situ dan perempuan berambut pendek itu pun menyapa. “berangkat kemana?” tanyanya.

“ke jepang,” jawabku.

“gajinya bagus nggak?” Continue reading

They Don’t Forget

“Vin, Alvin, mimpimu dulu banyak yang udah keraih ya sekarang…”

Sepenggal kalimat yang untuk kali kedua kudengar dalam kurun waktu tiga tahun belakangan dari dua orang berbeda yang dua2nya sama2 I missed so much …

Yang pertama adalah orang yang selama hampir 8 tahun takkudengar beritanya sampe lebaran tahun 2010 lalu.

Dan, yang di atas, meluncur dari seseorang yang sudah 14 tahun tak pernah kudengar kabar beritanya. Dia dulu teman sebangkuku ketika kelas 3 SMA. Continue reading

An Affair in Paris (Part I)

img_17451

sedang mengingat2 kejadian seminggu lalu. hari Minggu, jam segini, waktu setempat, aku sedang terbaring di atas kasur empuk Pullman Hotel di kawasan selatan Paris sambil nonton CSI di TF1, capek setelah seharian main di Eiffel en puter2 nyari makan, trus masih sedikit capek karena penerbangan yang memakan waktu sekitar hampir 14 jam in total, itu lari2 di Schipholnya gak diitung.

well, yeah, baru aja dapet kesempatan ke ibu kota negerinya Napoleon Bonaparte pada pekan lalu. bersyukur pada Tuhan karena masih diberi kesempatan untuk melihat-lihat kondisi di negara lain. bukan untuk membandingkannya sama Indonesia. nikmati sajalah suasananya karena pasti beda. *di sana, banyakan orang2 bule, di sini banyakan orang jawa, sunda, sumatera, batak, kalimantan, sulawesi, papua dan lain-lain, hahaha.*

oke, cerita nggak seru kalo nggak pake error. bukan begitu? halo, mickey … *eh, tiba2 keinget ama ni bocah, ahahaha …* Continue reading